Petani Marginal Berhak Jadi Objek Reforma Agraria

Agusdin ; Petani marginal di Indonesia terdiri atas petani yang memiliki lahan kurang dari 0,3 hektare (ha) dan buruh tani, dengan jumlah total sekitar 39 juta rumah tangga petani. Kaum inilah yang berhak menjadi objek reforma agraria.“Namun perlu diingat bahwa reformasi agraria bukanlah sekadar redistribusi lahan (land reform) tapi juga optimalisasi penguasaan lahan (access reform). Setelah petani mendapatkan lahan bersertifikat, maka pemerintah harus memberdayakan mereka agar sejahtera, mulai dari memampukan mereka mengakses modal, berproduksi dengan baik, memiliki teknologi pascapanen, dan mampu memasarkan. Jadi, reformasi agraria itu kebijakan holistik,” ucap dia. Agusdin menuturkan, reformasi agraria ini bisa saja melalui skema kemitraan petani-perusahaan seperti halnya perkebunan inti rakyat (PIR), atau lewat program Kartu Tani yang didukung sinergi BUMN. Pola PIR ini cukup sukses diterapkan di sektor kelapa sawit dan menghantarkan Indonesia menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia, mengalahkan Malaysia.Sedangkan lewat implementasi Kartu Tani, diharapkan semua lahan dan rencana penanaman oleh petani terdata dan diintegrasikan oleh lembaga terkait. Dengan semua terdata baik seperti petani di luar negeri, maka petani di Tanah Air bisa diberi pupuk bersubsidi dan sarana produksi yang lain tepat waktu, lewat kelompok tani yang terdaftar. Petani juga bisa mendapatkan berbagai program dari pemerintah, termasuk bantuan sertifikasi lahan. Mereka juga bisa memperoleh kredit dari bank BUMN, baik untuk biaya pertanian maupun biaya hidup keluarga selama belum panen. Setelah panen, hasilnya bisa dijual kepada Perum Bulog dengan harga yang memberikan keuntungan yang layak. “Reforma agraria itu juga harus ada access reform dan ada sistem kontrol. Meski memiliki lahan bersertifikat, petani nantinya menggunakan lahan dengan sistem hak guna pakai dan apabila tiga tahun tak dimanfaatkan maka akan diganti dengan petani lain,” kata dia. 

Oleh Novy Lumanauw dan Tri Listiyarini | Selasa, 28 Februari 2017 | 12:50 

Petani dan gabah. Foto: sp.beritasatu.com Petani dan gabah. Foto: sp.beritasatu.com 

Advertisements

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: