Transmigrasi sebagai Solusi Kesejahteraan Masyarakat Thursday, 14 January 2010, Copyright © 2010 Media Nusantara Citra Group

Indonesia sudah kian maju. Walaupun berbagai masalah menghantam, perekonomian Indonesia terus menguat.Namun, ada masalah sampingan dari kemajuan ini yaitu kota-kota besar yang kian padat.

Masalah ini telah dihadapi Indonesia bahkan pada masa prakemerdekaan. Untuk itu, transmigrasi menjadi pilihan yang tepat untuk dilaksanakan. Transmigrasi mampu meratakan persebaran penduduk Indonesia sembari memperkuat dan menggali potensi perekonomian daerah-daerah yang selama ini belum dimaksimalkan pemanfaatan potensinya. Sayangnya, transmigrasi masih belum menjadi isu yang mengakar di masyarakat.Transmigrasi masih dipandang sebelah mata dan tidak dianggap sebagai jalan menuju keberhasilan.

Padahal transmigrasi bisa menjadi jalan keluar kesesakan di kota besar.Apalagi saat ini pemerintah sedang fokus mengembangkan daerah. Lihat saja baru-baru ini pemerintah meluncurkan enam koridor ekonomi baru yaitu di Sumatera Timur, Pantai Utara Jawa, Kalimantan, Sulawesi Barat, dan Papua. Transmigrasi juga bisa menyokong program pemerintah lainnya seperti swasembada pangan.

Berbicara mengenai transmigrasi, ada baiknya kita menyitir pemikiran guru bangsa yang baru saja berpulang pada 30 Desember 2009.Gus Dur,ulama besar yang juga merupakan Presiden Keempat Republik Indonesia, ternyata memiliki pemikiran yang brilian mengenai transmigrasi. Gus Dur pernah menulis paper dengan judul “Transmigrasi: Dilihat dari Perspektif Sikap Kepeloporan dalam Budaya Bangsa Indonesia”.

Tulisan ini pernah disampaikan Gus Dur dalam suatu seminar di Jakarta pada 1994, dengan judul “Sikap Kepeloporan dalam Budaya Masyarakat”. Gus Dur mengatakan bahwa Prabu Dharmawangsa adalah seorang pionir transmigrasi. Beliau membawa orang dari daerah dataran sebelah selatan Jawa Tengah (sekitar Yogyakarta dan Solo) ke Jawa Timur ke daerah Kediri secara berangsur-angsur.Akhirnya jumlahnya sangat besar sekitar puluhan atau ratusan ribu. Dia lalu mendirikan keratonnya sendiri.

Dalam pembahasannya, Gus Dur mengatakan bahwa migrasi umumnya tumbuh dengan dilatarbelakangi pertimbangan ekonomis, tanpa mengesampingkan pertimbangan lainnya. Dalam pelaksanaannya kepeloporan mutlak diperlukan. Penting untuk diingat bahwa kepeloporan yang timbul dari kebudayaan suatu masyarakat itu tidak semata-mata berbentuk satu corak atau berasal-usul satu sumber saja.

Bisa saja disebabkan masalah ekonomi, politik, keagamaan, dan etnis. Migrasi dalam jumlah yang besar ini juga tidak dapat dibatasi hanya pada sebuah pulau.Ketika tekanan penduduk menjadi semakin besar dan ada ajakan (paksaan) oleh pemerintah kolonial untuk memberangkatkan petani ke perkebunan-perkebunan di luar Jawa (Deli, Lampung, Bengkulu, dan OKU) bahkan ke luar negeri seperti Suriname, migrasi terjadi begitu rupa banyaknya. Pada zaman kemerdekaan ini tanpa dipaksa pun banyak yang bermigrasi besar-besaran.

*** Memang akan terjadi perubahan corak budaya dengan transmigrasi. Misalnya orang Madura di Kalimantan Tengah sudah tidak sama lagi struktur sosialnya dengan orang Madura yang berada di Kalimantan Barat.Akibat pekerjaan, mereka mengalami dispersi (penyebaran) lokasi yang sangat tinggi (membuka jalan sepanjang Kalimantan) sehingga tidak ada komunitas wungkul Madura. Satusatunya mungkin hanya ada di Sampit.

Dengan tidak adanya struktur berjenjang,bisa dianggap lebih demokratis, menjadi seperti struktur orang Banjar (lebih mudah berpindah) dan mau melakukan apa pun menjadi lebih mudah. Di Kalimantan Barat tidak demikian, transmigrasi dilakukan in take seperti bedol desa. Kiai-kiai beserta pesantrennya semua berangkat ke sana dan membuat replika masyarakat Madura di Kalimantan Barat.Tentu berbeda dengan yang ada di Semenanjung Malaya dan Singapura sebab itu Maduranya Madura Bawean.

Kita melihat perubahan-perubahan pola kepemimpinan, juga pola kepeloporan di daerah baru itu bergantung kondisi yang ada. Di Lampung, orang Jawa yang kebetulan sangat banyak itu juga tidak sama dengan struktur kemasyarakatan di Jawa karena sudah melakukan integrasi dengan sistem adat Lampung di dalam segala hal. Ini juga dipengaruhi oleh sifat migrasi sendiri.

Migrasi dapat kita bagi dalam dua hal. Pertama, migrasi yang dispersinya tidak terlalu tinggi (ke satu arah).Banyak orang menuju ke satu arah, jadi masih kait berkait, tali bertali di antara mereka di daerah baru. Seperti di Lampung, nama-nama desa di sana mengambil nama Jawa (Pekalongan, Jepara, dan sebagainya). Ini menunjukkan bahwa dulu orang-orang yang pertama datang ke sana adalah orang-orang dari kota-kota tersebar.

Dengan dispersi yang sangat kecil ini, yang terjadi adalah pola afinitas,karena tidak mungkin memelihara hubungan afilial dengan daerah asal. Kedua, migrasi dalam jumlah yang lebih kecil dengan dispersi lebih tinggi, penyebarannya lebih sempit seperti migrasi tenaga cakap/terampil.Umpamanya saja penjual kerupuk Cikoneng,Tasikmalaya ada di mana-mana,bahkan sampai ke Sulawesi.

Begitu juga orangTegal,Wonogiri,Madura,dan lainnya.Kita melihat bahwa hal itu karena dispersinya sangat tinggi sehingga hubungannya bisa filial, artinya mereka mengumpulkan uang untuk membangun rumah di daerah asal. Di Cikoneng, balai desanya lebih mentereng daripada gedung kabupaten di Tasikmalaya karena ada dukungan dana dari orang-orang yang berada di luar daerah.

*** Sebenarnya tidak menjadi penting lagi apakah keputusan-keputusan melakukan transmigrasi itu diambil secara formal, nonformal, maupun informal. Namun, satu masalah adalah inisiatifnya datang dari mana. Ini sangat penting artinya. Kalau inisiatif itu datangnya dari masyarakat sendiri, dirasakan sebagai milik mereka dan restu dari pimpinan formal itu pemberian legitimasi yang sangat tinggi artinya bagi masyarakat. Kita ambil contoh Keluarga Berencana (KB).

Sekarang anak kecil pun sudah mengerti bahwa anak itu hanya cukup dua. Hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari mereka dan orang-orang tua pun menerimanya dengan rela. Itu bukan karena merupakan keputusan pemerintah, melainkan masyarakat sendiri tumbuh keinginannya untuk itu dan pemerintah memberikan programnya. Sekarang bagaimana kepeloporan yang terkait masalah migrasi itu bisa kita timbulkan dari inisiatif masyarakat? Di sini sangat penting untuk menekankan agar orang mau berangkat sendiri dan atas biaya sendiri.

Bagaimana mengembangkan insentif untuk itu? Insentif tidak harus selalu bersifat uang, barangbarang, atau jasa,mungkin sifatnya psikologis atau perspektif yang bisa dilihat oleh para pemimpin. Almarhum Pak Soedjatmoko pernah mengatakan kepada saya bagaimana kalau di sepanjang jalan trans-Sumatera setiap satu kilometer ada sebuah kota kecil yang isinya satu bengkel, satu kantor pos, serta satu general store.

Orang boleh memiliki tanah sekitar situ. Siapa yang bisa menggarap, silakan garap sebatas kemampuan dia. Para penduduk dibantu dengan kredit-kredit. Hasilnya banyak orang yang datang menetap. Masalahnya sepele, dia tidak mau sendirian,di tengah hutan (sense of being in the town). Kalau kita ubah policy dengan mengembangkan insentif yang seperti itu, saya rasa kepeloporan akan muncul dengan sendirinya.

Tentu harus ada sekolah sebab di daerah-daerah transmigrasi yang demikian luas,sekolah di desa-desa kurang kualitasnya. Nanti ujungnya sekolah lanjutan atas memang harus dibuatkan yang kualitasnya baik di tempat-tempat tertentu. Begitu juga sarana telekomunikasi yang saat ini sudah menjadi kebutuhan transmigran.

Hal-hal semacam ini lebih penting dengan disediakan sarananya ketimbang pencetakan lahan dengan segala kelengkapannya, perumahan, dan sebagainya, kemudian mendatangkan pemimpinpemimpin serta penduduk dari daerah padat. Biarkan mereka melihat, supaya timbul imajinasi (perspektif) sendiri bagaimana daerah ini akan berkembang di masa yang akan datang.

Mungkin juga didorong dengan proyeksiproyeksi pengembangan yang lebih simple yang dapat mereka pahami. Begitu pulang, mungkin mereka bisa menjadi pembawa pesan migrasi.Saya rasa dari ramuan- ramuan lama yang telah ada dan dibantu teknik-teknik promosi yang baru dan sederhana, akan muncul dorongan untuk menciptakan kepeloporan baru dalam kebudayaan masyarakat yang ada di pulau-pulau yang padat seperti di Jawa,Bali,dan Lombok.

Kembali pada pemikiran Gus Dur. Sang guru bangsa yang dalam tulisannya saya kaji itu tampak betapa visionernya beliau yang pada 1994 telah dapat menerawang apa dan bagaimana transmigrasi sebaik dan seharusnya.Pemikiran dan gagasan tersebut sekarang ini terjawab sudah dengan lahirnya UU 29/2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang No 15/1997 tentang Ketransmigrasian, yang paling tidak menyiratkan bahwa ada gula ada semut dengan basis rencana tata ruang wilayah merupakan suatu keniscayaan.(*)

Agusdin Pulungan
Ketua Wahana Masyarakat
Tani Indonesia

* Group Links :
* RCTI
* TPI
* Global TV
* Trust
* MNC
* okezone.com

Copyright © 2010 Media Nusantara Citra Group

Advertisements

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s