Beras Kita Sudah Sangat Kompetitif

AGUSDIN PULUNGAN:Liputan Khusus
Sabtu, 4 Maret 2006,Copy Right ©2000 Suara Karya

Sudah sejak zaman kerajaan dulu, beras, sering diikutsertakan dalam sebuah kerangka sistem politik. Bahkan, sebagai tanda tunduk terhadap kerajaan lain, beras menjadi upeti penting yang wajib diberikan kepada raja pemenang perang. Masa tersebut tampaknya tidak jauh berbeda dengan masa kini, perbedaan utamanya hanya terletak pada sistem politik yang dianut, kalau zaman kerajaan dulu sistem yang dianut adalah otoriter dan oligarki, maka kini memakai embel-embel demokrasi.

Namun, tetap saja beras dijadikan sebuah komoditas politik dengan dalih kekurangan stok atau operasi pasar. Untuk mengetahui lebih dalam tentang masalah ini wartawan Suara Karya Kentos R. Artoko dan Hedi Suryono mewawancarai Ketua Wahana Masyarakat Petani Indonesia (Wamti), Agusdin Pulungan diruang kerjanya. Berikut petikannya:

Bagaimana kondisi petani dan harga beras belakangan ini?

Untuk membicarakan masalah ini hendakya kita samakan dulu persepsi yang kita miliki. Yang namanya petani itu sebenarnya bisa digolongkan menjadi tiga bagian. Pertama, petani buruh atau yang bekerja langsung diaeral pertanian. Kedua, petani pemilik tanah dan petani yang menampung serta mendistribusikan komoditas beras.

Saat ini harga beras, memang lagi tinggi-tingginya, karena beras yang datang dari berbagai daerah mengalami kendala untuk memasuki pasar.

Di beberapa daerah sudah terjadi panen, tapi beberapa daerah juga mengalami musibah banjir. Hal ini menyebabkan harga gabah kering panen (GKP) di beberapa wilayah hancur lebur.

Pemerintah harus bertanggungjawab terhadap hancurnya harga GKP tersebut. Di Indramayu, harga GKP merosot jadi Rp 1.400 per kilo, Grobogan Rp 1.300 per kilo, Demak Rp 1.450 per kilo, Subang Rp 1.500 per kilo, Magetan, Ngawi dan Madiun Rp 1.400 per kilo.

Laporan itu saya peroleh langsung dari petani yang bergabung dalam komisariat di bawah Wamti. Ketidakadilan ini tidak bisa dibiarkan berlanjut.

Jatuhnya harga GKP bukan akibat gagal panen atau banjir. Kemerosotan harga GKP dicatat dari wilayah bebas banjir dan telah panen.

Faktor harga seharusnya jadi tanggungjawab Depot Urusan Logistik (Dolog) sebagai perpanjangan tangan Bulog di daerah. Ironisnya, Dolog dan Bulog sampai saat ini belum mencari solusi. Sebaliknya, muncul kesan sengaja membiarkan harga GKP terus merosot.

Dia minta pemerintah obyektif melihat kemerosotan harga GKP saat ini. Bukan mustahil ada strategi besar untuk menjatuhkan harga beras petani domestik.

Jadi masalah beras kini sudah menjadi komoditas politik?

Kalau itu sudah sejak zaman Romawi dulu, beras diikutsertakan dalam masalah politik. Sampai ada kerajaan yang jatuh hanya karena urusan beras.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah, perlu menerapkan kebijakan khusus untuk meminimalisasi kartel dan permainan para tengkulak, yang dengan kekuatannya mampu mempermainkan harga beras.

Hal ini sebenarnya merupakan permainan semata, namun pemainan ini juga melibatkan berbagai kalangan dari tingkat tengkulak sampai tingkat pejabat tinggi di pusat. Jadi sulit untuk mencegah dan mencari solusi masalah ini.

Dari dulu, masalah beras selalu dijadikan ajang pertentangan, persaingan dan intrik. Namun, yang terus menderita kerugian adalah produsennya, yakni kaum tani.

Karena itu, diperlukan kebijakan yang menyeluruh untuk mengatasi masalah komoditas beras. Kebijakan itu, harus mencakup lingkup produksi, distribusi, harga dan berbagai elemen masalah yang menyertainya, seperti kemudahan memperoleh bibit, pupuk dan hilangnya mata rantai tengkulak dalam proses produksi.

Jadi, kebijakan yang sangat terpadu mutlak untuk ditetapkan, integrasi antara Mentan, Mendag dan Bulog juga mutlak untuk mencegah dualisme dalam kebijakan itu.

Apa faktor yang menyebabkan harga beras tidak terkontrol dan terus melambung?

Yang jelas bukan karena komoditasnya tidak ada, berasnya ada, namun lebih banyak ditahan oleh kalangan spekulan. Mereka punya stok dan modal yang cukup banyak, sehingga bisa memainkan harga dipasaran.

Soal impor beras yang lalu, Wamti kelihatannya menolak keras langkah ini?

Jelas dong, karena dengan melakukan impor yang dirugikan itu adalah petani sementara pihak pemerintah yang diuntungkan.

Sekarang gini itung-itungannya, Bulog melalui Dolog di daerah itu hanya bisa mendapatkan maksimal Rp 5 untuk setiap kilo beras yang diambil, sementara untuk impor fee yang diperoleh bisa mencapai Rp 1.000 per kilogram.

Nah, kalikan dengan 150.000 ton beras pada tahap pertama, lalu berapa ratus ribu ton lagi tahap kedua dan begitu seterusnya. Jadi sekali tangguk Bulog itu bisa mendapatkan miliaran, bahkan mencapai triliunan rupiah. Hanya gara-gara ini rakyat dan petani dikorbankan.

Berdasarkan perkiraan anda sampai kapan harga beras akan terus melambung?

Kalau situasi sudah demikian biasanya harga beras terus melambung sampai dua atau tiga bulan ke depan. Apabila Bulog punya stok, maka dalam situasi seperti ini stok tersebut harus dikeluarkan.

Operasi pasar yang dilakukan Bulog beberapa waktu lalu, sangat tidak bermanfaat dan tidak menurunkan harga beras sama sekali. Bagaimana bisa mempengaruhi pasar, kalau produk yang ditawarkan merupakan produk kelas dua.

Beras kita itu kualitasnya kompetitif atau tidak dengan produk Vietnam atau Thailand?

Sangat kompetitif, bahkan untuk jenis tertentu produk kita jauh lebih unggul dibandingkan dengan produk dari Vietnam dan Thailand.

Keunggulan dari Vietnam dan Thailand itu hanya pada biaya produksi yang minimal, sehingga bisa melakukan ekspor ke berbagai negera. Disamping itu, produk yang dilempar ke pasar ekspor itu adalah produk sisa yang di negara asalnya sudah tidak dibutuhkan lagi.

Apakah Indonesia saat ini sudah swasembada lagi?

Sudah dong, kita sekarang ini sudah swasembada lagi, beras banyak produksi melimpah, hanya harga saja yang dipermainkan, apakah itu oleh pedangang, spekulan dan pemerintah sendiri.
Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i

Advertisements

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: